Senin, 11 Februari 2008
5 WAYS TO SURVIVE IN VOLATILE STOCK MARKET
What can we do during this current market phase?
#1 Wait for a buying opportunity and increase our equity position. Do what we've been accustomed to doing all our lives, which is to wait for a buying opportunity when the market weakens and take advantage of a developing market correction. If stock indexes go lower from this point, there is a chance we'll be shifting some spare cash over into stocks. Spare cash here is anything we can afford that is not earmarked for our business capital budget.
#2 Hedge and get into new or underrepresented asset classes. We haven't been as sophisticated about trying out other asset classes such as gold or currency plays. But we want to hedge our equities portfolio better so we are considering adding weight to areas that we have a bit more familiarity with and which may benefit from current market trends: real estate and international equities. It's a possibility that as the real estate market weakens further, that investment opportunities pop up in our local area. We may think of pooling our resources with friends to get into rental properties. Or more likely and primarily for the simplicity, we may just carve out a position in REITs, as one of my favorite bloggers is suggesting, especially now that he's done a great job with educating us about this. Another move would be to raise the allocation of ourinternational equities from roughly 10% to a maximum of 25%.
#3 Rebalance our existing portfolio. We can also do the simplest thing and just rebalance our portfolio after the recent market shifts we've seen. This would just entail staying with our intended allocations and making sure our investments are still conforming to their stipulated amounts.
#4 Sell and lighten our position. I've had some arguments with the spouse on this one. For some reason, he's somewhat convinced that the issues with subprime mortgage lending will spill over and create greater havoc everywhere else. Gee, wherever could he be getting such ideas? He's nagged me about "selling" equities in favor of other investments (see #2). I think I'm going to relent. We're planning on moving our most concentrated single stock investments into the diversified total stock market.
#5 Sit tight and do nothing. This is a prerogative that you have during crazy times like these when we hear that certain parts of the economy are unraveling. Stay put and stay the course. It's also called "buy and hold". Given that, I prefer to review our positions first before seeing if it could benefit from some tweaking. If there are fundamental reasons to break out of the inertia that is "buy and hold", then we need to reevaluate and see if we can capitalize on these changes in the financial and investing landscape.
In Conclusion Because of what's afoot these days, we intend to do some readjustments to our portfolio. But first, I'll need to do a portfolio review and see if we have enough funds to get into additional investments. Beyond this myopic view, we'll also have to take a step back and see our household's big picture and consider the risks we're taking with my spouse's fledgling startup business. This will be a good time to check how we can evaluate our overall finances against his entrepreneurial visions. Once I determine our current situation in detail, we'll know our next steps. For now, this material is just to open the discussion for possible changes to our existing financial strategies.
Senin, 04 Februari 2008
Waktu Yang Paling Baik Untuk Pindah Ke Dinar
Namun diantara waktu yang baik tersebut, terdapat waktu yang paling baik – kapan itu ? yaitu pada saat uang kertas nilainya masih baik, masih memiliki daya beli yang lumayan baik. Seperti analisa yang para pakar minggu lalu, minggu ini harga emas dunia turun – demikian pula dengan Dinar. Saat inilah waktu yang paling baik itu untuk pindah ke Dinar.
Turunnya harga emas dunia minggu ini, seperti juga yang sudah dimulai pada akhir perdagangan emas dunia Jum’at lalu - didorong oleh naiknya nilai tukar Dollar terhadap sekelompok mata uang kuat lainnya di dunia. Kondisi ini mungkin tidak lama, diperkirakan antara 1 sampai 6 minggu kedepan – karena setelah itu kembali pasar akan berspekulasi tentang suku bunga The Fed.
Kita perlu pindah ke Dinar karena selain untuk membangun ketahanan ekonomi keluarga kita, kita juga secara bersama-sama membangun ketahanan ekonomi umat. Karena ketidak tahuan atau ketidak pedulian sebagain besar dari umat ini, membuat kekayaan sebagian umat islam terkuras habis – tanpa disadari.
Tiga grafik disamping menggambarkan indikasi kekayaan riil umat Islam dunia apabila diukur dari cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral-nya masing-masing.
Negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam, secara keseluruhan cadangan emasnya relatif tetap (kecil) sejak tahun 1980; tetapi kita harus berterima kasih sama Lybia dan Pakistan yang keduanya berhasil mengimbangi penurunan cadangan emas lebih lanjut yang dilakukan oleh negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya seperti Malaysia, Qatar, Oman, United Arab Emirat – tiga negara yang disebut terakhir bahkan emasnya sudah hampir habis sama sekali.
Negara seperti
Di luar Islam, negara yang paham dan memiliki kemampuan untuk membangun kekuatan ekonomi yang sesungguhnya adalah
Negara seperti Amerika, Eropa dan Kroni-kroninya sebenarnya juga tidak bertambah kuat perannya dibandingkan dengan negara- negara seperti India dan China; Ini tantangan bagi kita semua di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim – mengapa India dan China bisa secara bertahap merebut dominasi ekonomi dari Amerika dan Eropa sedangkan kita tidak atau belum bisa ?. India dan China berhasil membuat sektor usaha riilnya berjalan dengan baik, sementara kita hanya berpuas diri pada penampilan di sektor keuangan dan pasar modal.
Sebenarnya emas juga bukan hal yang utama untuk membangun kekuatan ekonomi, ekonomi sektor riil-lah yang utama. Ketika sektor riil tumbuh dan hasil panen dari pertumbuhan tersebut perlu diamankan dalam’tangkainya’ – maka disinilah emas berperan untuk membangun ketahanan ekonomi tersebut dan menjadi alat ukur, alat timbang dan alat bermuamalah yang adil lainnya.
Ketika mata uang kertas dunia runtuh - maka selain asset dari sektor riil - emaslah salah satunya yang akan bertahan sebagai kekayaan riil bangsa-bangsa di dunia. Jadi selagi mata uang kertas tersebut masih bernilai, maka inilah saat terbaik untuk menukar kekayaan berupa uang kertas dengan kekayaan yang riil tersebut. Namun kalau asset kita sudah dalam bentuk benda riil lainnya seperti usaha yang sudah jalan - ya jangan kita tukar dengan emas; insyaallah usaha kita akan memberi hasil yang lebih baik dari emas.
sumber: www.geraidinar.com